Monday, February 11, 2008

Yang Muda bersilaturahim

bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillahirabbil alamin, Senin ini Afoe sempatkan untuk mengisi blog, hampir sebulan Afoe tidak entry kisah harian.

Semoga Alloh SWT senantiasa meliputi aktivitas kita dengan keberkahan dan rahmatNya. Amin

Adalah hari Ahad, 10 Feb 08 menjadi moment indah bagi Afoe.
Mulanya kesibukan pagi telah menyergap Afoe. Usai bangun tidur, ada pengumuman dari masjid kampung bahwa Ahad ini akan diadakan kerja bakti tingkat RW.
Otomatis, afoe pun menyesuaikan dengan perintah Pa RW itu, di dalam hati sempat terbesit kenapa pengumumannya terlalu dekat dengan waktu pelaksanaan.
Padahal di kampung sebelum ini, ketua RT akan menyebarkan undangan 1-2 hari sebelum kerja bakti dikerjakan. Meski demikian Afoe pun mengikuti seruan itu, mungkin adat kampung disini seperti yang telah terjadi.

Afoe nimbrung dengan para warga. Kerja bakti hingga pukul 07.58.
Sesuai dengan agenda, Ahad itu Afoe beserta istri telah memiliki mata acara yang banyak.

Pukul 09.00 : Afoe menghadiri undangan Dewan Pengurus Daerah Dewan Pengurus Cabang (DPC) Partai Keadilan Ssejahtera (PKS) Kota Tegal , sedangkan istri menghadiri seminar Ikatan Bidan Indonesia (IBI) di Sebayu Hall, Hotel Bahari.

Pukul 13.00 : Afoe diharapkan hadir dalam pertemuan Koordinator RW di kantor DPC PKS Kec. Tegal Barat Kota Tegal.

Pukul 17.00 : Afoe harus menghadiri latihan nasyid, sementara istri mengajar pengajian.

Pukul 17.30 : Giliran Afoe yang harus mengajar pengajian.

Ikhwah fillah, agenda pertama mengantarkan istri ke Sebayu Hall mengikuti seminar.
Afoe kembali ke rumah, karena ternyata 2 keponakan kecil datang.

Mereka dengan berani melintasi jalur pantai utara pulau jawa dengan menggunakan sepeda mini. wuih...
Untuk itulah Afoe memberikan apreasiasi atas keberanian mereka silaturahim ke rumah dengan jamuan dan sambutan yang agark berlebih.
Afoe ijin tidak mengikuti pertemuan DPD, dengan asumsi hasil mukernas akan disampaikan oleh teman liqo lainnya.
Afoe menemani 2 keponakan bermain dan menonton TV.
Langit yang sedari pagi mendung, kini hujan deras.
Makanan kecil telah habis, sementara perut mulai keroncongan karena lapar.
Istri yang biasanya menyiapkan makan siang, saat ini sedang seminar.

Afoe mengajak 2 keponakan makan siang di Alun-alun Kota Tegal.
Mereka nampak gembira dengan ajakan ini, melihat ramainya orang-orang yang hendak makan siang.
Kami bertiga berkunjung ke rumah makan pasar senggol.
Sebuah kawasan pasar yang menyedian makanan khas Kota Tegal berupa : soto (ayam/babad/campur), nasi lengko, gulai, opor, sop, dll.

Afoe pesan : 2 mangkuk nasi soto (ayam+babad) dan 1/2 piring nasi lengko.
Kedua keponakan Afoe melahap dengan cepat, mungkin karena lapar ditambah dengan rasa yang lezat.
Begitu pula dengan Afoe, cepat melahap makanan soto Babat.

30 menitan Afoe dan keponakan berada disana, setelah membayar kami segera kembali ke rumah.
Langit masih mendung, bahkan gerimis terasa begitu dingin menyentuh kulit.
Pelan-pelan Afoe mengendari motor bersama para keponakan.
Kami tiba di rumah, rehat.


Benarlah bahwah silaturahim memiliki banyak manfaat, diantaranya adalah : kuatnya hubungan kerabat antar keluarga, bertambah rezeki, dll.

Friday, January 18, 2008

Tak berubah, hanya berbeda sedikit

bismillahirrahmanirrahim

Ikhwah fillah.....Perjalanan dakwah yang panjang senantiasa menemui berbagai dinamika. Karena dimanika ini lah yang membuat dakwah menjadi hidup.

Adalah sebuah harakoh menjadi kokoh lantaran amalnya yang tertata rapi. Harakah menjadi kuat dikarenakan para jundinya yang komitmen pada prinsip-prinsip harakahnya, terlebih lagi pada prinsip dasar Islam.

Ketika suatu saat salah seorang calon dan anggotanya menyatakan diri keluar dari barisan harakah, ibarat kereta api maka secuil gerbong telah putus-lepas. Terlepasnya secuil gerbong ini bisa melepaskan lagi gerbong-gerbong yang ada dibelakangnya. Kecuali jika dia tak memiliki gerbong lagi di belakangnya.
Meskipun kereta yang baik akan senantiasa mengganti gerbong-gerbongnya dengan yang terbaik.

Itulah sekulit analogi yang sedang Afoe bangun ketika mendengar bahwa seorang akh telah berhenti dari aktivitas tarbiyahnya.

Alhamdulilah sore kemarin diberikan kesempatan oleh Alloh SWT untuk bertemu dengannya.
Sejenak Afoe siapkan diri. Menyapanya dan memberikan salam, tak lupa senyuman untuknya.
Dia menjawabnya, menyalami tangan dan membalas senyuman Afoe.

Afoe langsung "tembak" meminta penjelasan terhadap kabar yang beredar di kalangan ikhwah bahwa dia sudah berhenti dari halaqohnya.
Dia memceritakan alasan-alasan kenapa dia berhenti dari tarbiyahnya.
Suaranya, geraknya, penjelasan-penjelasanya, hingga caranya mengungkapkan kondisi diri dan ummat yang begitu terpuruk SAMA persis dengan dahulu.

Afoe hanya menghitung dan menghitung tentang rehatnya dia dari tarbiyah lantaran kurangnya porsi tarbiyah ruhiyah untuknya. Aktifitasnya yang padat di wasilah dakwah berupa partai membuat kering ruhiyahnya.
Dia berontak ingin mendapatkan pengajaran-pengajaran tarbiyah yang super, yup super tarbiyah.
Super tarbiyah ruhiyah adalah memungkinkan para adho'nya menjadi jundi yang militan.
Yang dapat bertahan ketika ujian ruhiyah menerpa.

Hal ini pernah Afoe sampaikan kepada para pengelola kader. Alhamdulillah langsung direspon dengan tenggang waktu 1 bulan-an. Respon berupa pengadaan majelis ilmu rutin selain halaqoh, para ikhwah sering menyebutnya dengan majelis taklim 2 pekanan, ada juga yang menyebut dengan tarbiyah tsaqifiyah.
Sayang jika taklim ini kurang diurusi, padahal untuk kader muda taklim penting.

Kembali kepada ikhwah yang kini berhenti tarbiyah.
Afoe terus mendengarkan penjelasannya yang tegas, jelas. (lagi² sama seperti dulu ketika dia masih tarbiyah, semangat).

Dari penjelasanya Afoe menyimpulkan bahwa yang dia lakukan saat ini adalah sama dengan yang dia lakukan dengan dahulu. Sekarang dia sedang menimba ilmu sebanyak-banyaknya untuk bekal diri dan mungkin keluarga serta umat Islam.
Dia hanya tidak tarbiyah dalam harakah ini, melainkan sedang menggali ilmu di tempat lain.
Dia sedang tidak berkenan untuk melakukan aktivitas lain selain dari yang dia yakini saat ini.
Sesungguhnya tak ada yang berubah darinya, dia hanya berbeda sedikit dari yang dulu.



*Toek saudaraku, kutungu kontribusi dakwahmu yang nyata. Bukan hanya kata.

Monday, January 14, 2008

Cukup 3 menit melintas Jawa Tengah & Jawa Barat

bismillahirrahmanirrahim

Ahad, 13 Jan 2008

Rombongan binaan Afoe melakukan silaturahim ke salah satu anggota halaqoh yang berasal dari luar kota. Kami berangkat dari kota Tegal menuju Losari pukul 16.30.

Perjalanan menggunakan bus antar propinsi membuat kami terasa "nyaman". paling tidak ukuran bus yang besar membuat perjalanan tak khawatir tersalip dan tertinggal dari kendaraan lain.

Tarifnya sangat murah, jika dibandingkan dengan jauhnya jarak serta rawannya jalan raya. Mulanya kami akan menempuh perjalanan dengan motor, namun khawatir dengan keganasan jalur pantura. Apalagi berdasarkan pengalaman pribadi jalur panturan di bagian barat Jawa Tengan itu menyempit.

Untuk orang dewasa, kondektur bus mengenakan tarif Rp. 6.000, jika bisa menawar kita mendapatkan korting Rp. 1.000. Sementara untuk anak-anak (pelajar) hanya dikenakan tarif Rp. 3.000. Murah kan?

Satu setengah jam kemudian, kami telah sampai di tempat tujuan. Losari. Kaki kiri turun dari bus diikuti kaki kanan yang sigap melompat. Beriringan dengan teman-teman lain berjalan menuju salah rumah. Kira² 400 meter, kami berjalan hingga menjumpai rumah berwarna putih dengan pagar besi berwarna hijau. Yah, itulah rumah kawan yang kami tuju.

Kami masuk dan rehat sejenak melepaskan lelah serta beradaptasi dengan lingkungan.

Beberapa menit kemudian, seluruh penghuni rumah itu pulang. Ada ayah, ibu, kakak, kakak ipar, dan keponakan dari teman kami. Mereka menyapa kami dengan hangat.

Hari semakin sore, ayam-ayam kembali ke kandangnya. Langit mulai gelap, matahari telah lebih dahulu berada dibalik cakrawala sore. Esok ia akan kembali bekerja. Insya Alloh.

Kami berdelapan, bersiap untuk sholat Maghrib di sebuah mushola kecil yang terletak 200 meter dari rumah teman kami. Mushola mungil ini mampu menampung 50 jamaah laki-laki dan 30 jamaah wanita. Suasana khas pedesaan sangat jelas terlihat. Rukun dan tenang. Kami berlomba menempati shof sholat terdepan, karena kami yakin itulah barisan sholat terbaik. Demikian pula ketika sholat Isya dan Shubuh disana.

Ba'da mahrib kami menggelar pengajian rutin hingga pukul 22.00. Ketika adzan Isya berkumandang kami jeda untuk rehat dan melanjutkan usainya.

Malam hari itu, tema yang diambil adalah KREATIF. Tema ini diambil lantaran kebutuhan para peserta. Pserta yang rata-rata masih usia sekolah menengah atas ini diharapkan dapat menapaki hidup penuh kreatif. Masa muda sering dijadikan lompatan prestasi unggul juga sebaliknya menjadi masa hitam menuju kehancuran.

Pemuda sering berpikir pendek tanpa mengingat akan masa depan. Yang mereka tahu adalah hidup itu SEKARANG dan SEKARANG lah hidup. Bukan BESOK apalagi masa depan, kecuali ada yang mau mengingatkan (orangtua, guru, pendamping/pembimbing, saudara, teman, dan sahabat).

Kreatif adalah sebuah sifat yang memungkinkan pelakunya tidak akan mengalami mati kutu dalam menghadapi berbagi ujian. Dia akan terus mencari-cari celah demi mendapatkan cita-citanya. Bayangkan jika mereka kreatif dalam kebathilan, kejahatan dan kemaksiatan. Sungguh sangat sulit untuk mengobatinya.

Rasa ingin tahu, berontak, dan jiwa yang bebas dimiliki oleh hampir semua pemuda. Managemen yang salah dapat membuat mereka terjerembab dalam kenistaan yang tiada akhir, hingga akhirat. Naudzubillah.

Kajian diakhir pukul 22.00, kami rehat untuk mempersiapkan Qiyamulail pukul 03.00 dan riyadhoh ba'da Shubuh.

5 Jam kemudian kami bangun melaksanakan sholat tahajud di rumah teman kami hingga pukul 04.15. Sambil menuggu sholat shubuh datang, kami melakukan tilawah, rehat, dan nglipatin kasur serta selimut dan bantal yang kami pakai.

Adzan Shubuh terdengar nyaring. Lebih nyaring dari adzan Maghrib dan Isya. Mungkin karena suasana Shubuh jauh lebih tenang. Kami bergegas ke mushola agar bisa menempati shof terdepan, persi di belakang sang imam. Hanya 20 menit kami berada di mushola itu, sholat, dzikir, dan berdoa kepada Alloh SWT.

Udara sejuk pagi hari menyapa, ketika kami melakukan joggin menyusuri jalanan sempit kampung Losari. Kami berada tepat di perbatasan antara propinsi Jawa T engah dan Jawa Barat.

Hanya membutuhkan waktu sekitar 3 menit kami dapat memasuki wilayah Jawa Barat, begitu pula kami kembali lagi ke wilayah Jawa Tengah dalam 3 menit.

Perbatasan ini berupa sungai Cisanggarung. Dengan lebar ± 100 meter yang memisahkan propinsi Jawa T engah dan Jawa Barat membuat kami begitu bangga, dapat melintasinya dengan waktu lumayan cepat, 3 menit.

Diatas sungai ini dibangun jembatan besar yang kokoh dan kuat, membuat perekonomian menjadi hidup. Bahkan di bawah jembatan ini terdapat pasar kebutuhan sehari-hari.